email: admin@ipc.or.id | Telp: (021) 8353626

PROGRAM IPC TERKAIT PARLEMEN

Ada lima program kami yang terkait dengan parlemen:

  1. Program Parlemen Pemuda
  2. Program Magang di Parlemen
  3. Kajian Fungsi dan Kelembagaan Parlemen
  4. Advokasi Legislasi di Parlemen
  5. Keterbukaan Informasi di Parlemen

I. PARLEMEN PEMUDA

Parlemen pemuda merupakan sebuah program yang bertujuan mengenalkan dasar-dasar parlemen, secara kelembagaan dan fungsi kepada para mahasiswa dan kader muda partai politik, melalui training dan/atau magang di DPR. Dalam training, setelah mendapatkan teori peserta melakukan simulasi dengan memerankan diri sebagai anggota parlemen dan melakukan fungsi-fungsi sebagai wakil rakyat. Antara lain  penyerapan aspirasi, sidang, dan lain-lain.

Program ini sendiri diadopsi dari Youth Parliament yang telah berkembang di Amerika dan Eropa.

UK Youth Parliament

UK Youth Parliament

Apa saja yang dipelajari dan di simulasi, dalam Program Parlemen Pemuda?

Pengenalan demokrasi; Bentuk negara, bentuk pemerintahan, dan sistem pemerintahan; Pemilu; Bentuk dan sistem perwakilan; Kelembagaan, Fungsi, tugas, dan wewenang DPR; Pembentukan Fraksi, Alat Kelengkapan DPR; Pemilihan Pimpinan Alat; Kelengkapan Mekanisme penyampaian dan penyerapan aspirasi.

Membenahi Persepsi

Sebelum pelaksanaan training, dilakukan pemetaan tentang persepsi peserta terhadap parlemen. Apa yang anda bayangkan jika mendegar kata parlemen?” . “Korupsi”, “tidur” , “selingkuh” dan sederet kata lain. Begitulah suasana ketika pertanyaan di atas dilemparkan kepada anak-anak muda untuk mengecek persepsi mereka tentang parlemen. Lantas, muncul anggapan bagaimana mungkin partisipasi masyarakat bisa maksimal, jika melihat parlemen negatif.

Karenanya, dalam rangka mendorong partisipasi tersebut, IPC merancang satu model pendidikan parlemen yang disebut dengan parlemen pemuda. Parlemen pemuda merupakan bentuk pendidikan keparlemenan untuk para pemuda dan mahasiswa yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang parlemen juga kesadaran untuk berpartisipasi dalam proses kebijakan di parlemen, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Untuk mencapai tujuan tersebut, IPC telah mengembangkan modul training keparlemenan dengan berbagai materi dan metode. Peserta training selama delapan hari akan memperoleh berbagai materi. Mulai dari demokrasi perwakilan, partai politik, parlemen dan fungsi-fungsi parlemen. Bagi sebagian peserta, materi-materi tersebut tentu agak berat dicerna. Oleh karena itu, IPC menggunakan metodologi partisipatif. Peserta dalam hal ini dilibatkan langsung untuk merasakan dinamika berparlemen melalui simulasi-simulasi, permainan peran, diskusi kelompok, penyisiran lapangan dan brainstorming.

Gabungan materi dan metode yang telah dirumuskan oleh IPC telah menghasilkan training yang menyenangkan dan memberikan perspektif yang lebih objektif dalam melihat parlemen bagi para peserta. Berbekal pandangan tersebut, keinginan untuk berpartisipasi di parlemen menjadi tumbuh dengan tetap mengedepankan sisi kritisisme terhadap permbaut kebijakan. Dengan demikian, terbentuk pemahaman bahwa parlemen adalah lembaga yang objektif dan merupakan pintu untuk memperbaiki kebijakan yang lebih pro publik.

Parlemen Pemuda IPC

10559085_10202519795664634_32151600_n

Parlemen Pemuda – IPC

Semenjak 2006 hingga 2008, IPC telah menyelenggarakan enam angkatan parlemen pemuda dengan melibatkan 146 Mahasiswa dari perguruan tinggi-perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Mereka menggabungkan diri dalam jaringan parlemen pemuda Indonesia. Di masing-masing daerah, sebagian besar alumni memperoleh manfaat dari training dalam keseharian mereka dalam berbagai profesi, aktifis NGO, fungsionaris partai politik, peneliti mapun sebagai warga masyarakat yang mengorganisir masyarakat sekitarnya. Pengalaman yang diperoleh di training bermanfaat bagi mereka ketika mengadvokasi kebijakan di parlemen, mengawasi kinerja parlemen atau sekedar memberi masukan kepada anggota dewan. Hal demikian merupakan dampak kecil dari training yang sudah dilaksanakan oleh IPC.

Berjalannya parlemen pemuda untuk mahasiswa memberikan dampak peningkatan partisipasi meskipun masih sangat sedikit, . Berdasarkan pengalaman tersebut, IPC berharap dampak tersebut bisa lebih luas dan lebih berkesinambungan kepada masyarakat. Pendidikan parlemen pemuda kemudian dikembangkan dengan melibatkan kader muda partai politik.

Gagasan parlemen pemuda untuk kader muda partai politik muncul menjelang pemilihan umum 2009 diselenggarakan. IPC melihat partai-partai peserta pemilu belum semua memiliki sistem pendidikan yang mempersiapkan åkader untuk menduduki kursi di parlemen. Banyak anggota parlemen terpilih belum menguasai bagaimana parlemen bekerja, sehingga butuh waktu satu hingga dua tahun untuk mengenal tempat kerjanya. Padahal, dia dipilih untuk menyuarakan konstituen di dapilnya.

Kondisi tersebut akan menghambat penyelenggaraan demokrasi perwakilan di Indonesia. Ditambah lagi dengan masalah sistem pemilu yang memberikan “ruang” dilakukannya praktek transaksi politik, makin jauh harapan masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya kepada pembuat kebijakan di gedung parlemen.

Berdasarkan kondisi tersebut, IPC kemudian menggagas sebuah program yang disebut dengan parlemen pemuda untuk kader muda partai politik. Program ini merupakan program pendidikan parlemen yang dikhususkan bagi kader muda partai politik dengan tujuan untuk memberikan pemahaman kader muda partai tentang mekanisme kinerja parlemen dan keahlian-keahlian apa yang dibutuhkan untuk memaksimalkan kinerja parlemen tersebut. Selain itu, program ini merupakan wahana pembelajaran bagi partai politik dalam membangun sistem kaderisasi dan pendidikan kader internal mereka dalam konteks pengisian jabatan di parlemen.

II. MAGANG DI PARLEMEN

DPR Magang

Magang atau internship merupakan salah satu program unggulan IPC. Ada dua manfaat yang didapat, secara bersamaan. Pertama, membangun pemahaman dan kesadaran pemuda terhadap politik. Kedua, membangun relasi dan menjalin ide-ide reformasi parlemen bersama Anggota DPR. Kami berupaya memastikan, Anggota DPR yang terlibat dalam program ini, adalah mereka yang memiliki integritas, kapasitas, dan komitmen untuk Indonesia yang lebih baik.

Berikut kategori magang, berdasarkan latar belakang peserta.

Magang untuk Mahasiswa 

Program ini untuk memberikan ruang bagi para mahasiswa/pemuda untuk belajar (dengan melihat dan memahami) bagaimana parlemen bekerja. Di saat yang sama, mereka juga membantu tugas-tugas anggota parlemen.

Magang untuk mahasiswa merupakan kegiatan magang pertama yang dilaksanakan IPC dalam skema program “Youth Parliament”. Ada 15 mahasiwa yang magang di anggota DPR RI  dan 3 mahasiswa yang magang di anggota DPRD Provinsi Banten, dari Februari – April 2006.

Mereka bagian dari 70 mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sebelumnya mengikuti Orientasi Parlemen Pemuda Daerah dan Orientasi Parlemen Pemuda Nasional. Orientasi ini untuk memberikan pengetahuan dan membangun kesadaran (awareness) di kalangan mahasiwa/pemuda tentang peran/fungsi parlemen dan partai politik, sebuah tujuan yang kecil kemungkinan didapatkan dari pendidikan formal karena terbatasnya pelajaran tentang politik dan demokrasi.

Para mahasiswa ini cukup membantu tugas anggota Dewan, mulai dari hal-hal administratif hingga substansi, misalnya analisa media, pemetaan persoalan sesuai komisi terkait, pembuatan release dan sebagainya.

Anggota DPR RI periode 2004-2009, penerima magang dari mahasiswa

No Nama Anggota Dewan Fraksi Peserta Universitas
1 Nursyahbani  Katjasungkana PKB Dede Nurifah Universitas Islam Negeri  Jakarta
2 Rama Pratama PKS Ahmad Hanafi Universitas Islam Negeri  Jakarta
3 Hasto Kristiyanto PDIP Yulis S Tri Wahyuni Universitas Islam Negeri  Jakarta
4 Darul Siska Golkar Diana Kusumawati Universitas Negeri Jakarta
5 Hakam Naja PAN M. Rizki Ramadhani Universitas Indonesia
6 Sayuthi Asyathri PAN Fauzan Fuadi Universitas Muhammadiyah Malang
7 Sudarto Danusubroto PDIP Jan Ramos Pandia Universitas Padjadjaran Bandung
8 Nursanita Nasution PKS Ika Widia Sundari Universitas Haluoleo Kendari
9 Imam Nahrawi PKB Zakiyah Universitas Islam Negeri Makassar
10 Mufid A Busyairi PKB Arbain Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
11 Anwar Arifin Golkar Mufarohah Mansur Universitas Negeri Malang
12 Chairun Nisa Golkar Andwi Joko Universitas Sebelas Maret Solo
13 Endin AJ. Soefihara PPP Tatat Universitas Padjadjaran Bandung
14 Nusron Wahid Golkar Ade Martua Universitas Palangkaraya
15 Tristanti Mitayani PAN I Gusti Ayu A K Yoni Universitas Udayana Bali

 

Anggota DPRD Provinsi Banten periode 2004-2009, penerima magang dari mahasiswa

No Nama Anggota Dewan Fraksi Peserta Universitas
1 Sutje Suwartini PDIP Tb Deni Faisal H IAIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten
2 Ediansyah Rahman PAN Insan Maliki Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Banten
3 Iin Rahmawati PNU Iin Rahmawati IAIN Sultan Maulana Hasanuddin (SMH) Banten

Magang untuk freshgraduate

Magang untuk freshgraduate, difokuskan untuk men-support anggota DPR, pada tema tertentu yang sedang ditangani oleh anggota Dewan bersangkutan.

Misalnya, per Juni 2011 hingga Mei 2012 mendatang, IPC menjalankan program internship untuk freshgraduate dalam rangka membantu anggota Komisi II dalam pembahasan paket UU politik dan anggota Komisi VII terkait revisi UU No. 22 Tahun 2001 Tentang Minyak dan Gas Bumi.

Magang untuk freshgraduate pertama kali dilaksanakan oleh IPC pada tahun 2007.  Namun objek yang disupport saat itu masih bersifat umum, tergantung kesepakatan dengan anggota Dewan dan isu yang berkembang. Ada berbagai hal yang dikerjakan oleh peserta magang, terutama terkait analisa content terhadap rancangan undang-undang yang sedang dibahas.

Banyaknya tugas yang dikerjakan peserta magang, antara lain karena minimnya staf anggota Dewan saat itu (hanya ada satu asisten pribadi untuk urusan administratif), sehingga peserta magang sangat diharap memberikan bantuan terhadap berbagai hal yang ditangani anggota.

Kondisi saat ini berbeda, dimana setiap anggota telah didampingi oleh satu asisten pribadi dan dua orang tenaga ahli, sehingga memungkinkan peserta magang bisa mengkreasi sesuai dengan pembagian tugas dengan mereka.

Daftar Anggota DPR RI Periode 2004-2009, penerima program magang freshgraduate

Periode Februari – Maret 2007
No Nama Anggota Dewan Fraksi Peserta Magang Universitas
1 Alvin Lie PAN Han Niwally Ahmad Unpad Bandung
2 Deddy Djamaludin Malik PAN Geovani Kusuma Universitas Indonesia
3 R. Bagus Suryama PKS Yusa Djuyandi Unpad Bandung
4 Chairun Nisa Golkar Shanty Kartika Dewi Unpad Bandung
Periode April – Juni 2007
No Nama Anggota Dewan Fraksi Peserta Magang Universitas
1 Andreas H. Pareira PDIP Teguh Himawan Unpad Bandung
2 Effendi Choirie PKB Bachrul Sitanggang Unpad Bandung
3 Bomer Pasaribu Golkar Abdul Rahman Lubis Universitas Diponegoro
4 Nursyahbani Katjasungkana PKB Muhammad Taufan Universitas Indonesia
5 Sayuti Asyathri PAN Arif Rahmadi H Unpad Bandung
Periode September 2007 – April 2008
No Nama Anggota Dewan Fraksi Peserta Magang Universitas
1 Nursyahbani Katja Sungkana PKB Muhammad TaufanRaudatul Ulum Universitas IndonesiaUniv. Tanjung Pura
2 Nursuhud PDIP Zurhaidayati Univ. Mercu Buana
3 Sayuti Asyatri PAN Syaiful Anwar IAIN SMH Banten
4 Badriyah Fayumi PKB Yuherina Gusman Unpad Bandung
5 Andi Yuliani Paris PAN Arif Rahman H Unpad Bandung
6 Ganjar Pranowo PDIP Heriyanto Universitas Indonesia
7 Hafidz Ma’soem PKB Khakim Mujayan UIN Jakarta
8 Ali Masykur Musa PKB Desiana Samosir Unila Lampung
9 Marwan Ja’far PKB Faiz Hamka UIN Jakarta

Magang untuk Kader Muda Partai Politik

Dalam negara demokrasi modern, partai politik sangat menentukan kualitas demokrasi, selain sistem pemilihan umum dan badan perwakilan rakyat. Tiga komponen ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Karena itu, sangat diperlukan dukungan publik agar partai menjadi lebih baik. Salah satu upaya yang dilakukan IPC yaitu melalui program magang untuk kader muda partai. IPC sendiri telah menjalankan sejumlah program tersebut, sejak tahun 2010 hingga saat ini.  Tujuan yang diharapkan, antara lain:

  • memberikan gagasan baru kepada partai politik tentang supporting system anggota parlemen berbasis kader
  • mendorong partai politik untuk memahami pentingnya pendidikan parlemen dalam kaderisasi partai
  • mendorong kader partai politik untuk membantu kinerja anggota Dewan dengan mengimplementasikan skill yang diperoleh selama orientasi parlemen.

Pada awalnya, upaya tersebut tidaklah mudah. Pengalaman kami menunjukkan, ada resistensi partai terhadap NGO. Selama ini, sejumlah NGO menilai bahwa partai politik yang ada, merupakan sumber masalah dalam proses demokrasi. Sebaliknya, partai menganggap NGO bagai empu yang bermukim di atas awan, menyuarakan idealisme tanpa menyelami realitas partai dan kondisi sosial, yang saling terkait.

Namun, melalui berbagai pertemuan dan diskusi, dimana kami menjelaskan positioning IPC, tujuan dan output program serta berbagai keterbukaan lain, akhirnya program ini dapat berjalan dengan baik. Bahkan relasi IPC dan partai politik, baik di tingkat nasional maupun provinsi/kabupaten/kota terus terjalin dengan baik hingga kini.

Apa saja yang dilakukan oleh peserta magang? Silakan klik magang di parlemen.

 

III. KAJIAN PARLEMEN

Dalam sistem daftar pemilih terbuka akan menghasilkan anggota DPR yang berkarakter trustee. Anggota DPR terpilih menjadi kepercayaan konstituen untuk menyampaikan aspirasi-aspirasi mereka dalam proses pengambilan kebijakan. Namun demikian, sistem di DPR RI memposisikan anggota DPR sebagai delegate. Artinya anggota mewakili kepentingan partai politik tertentu dalam proses pengambilan kebijakan. Oleh karena itu, ketidaksinkronan ini perlu diperkuat dengan cara kolaborasi antara partai politik dan anggota dewan mengenai isu-isu kebijakan.

Indonesian Parliamentary Center menyelenggarakan kajian dalam rangka menemukan titik temu hingga tataran implementasi. Dalam kerangka tersebut, IPC mengembangkan perspektif transparansi, partisipasi dan akuntabilitas.

IV. ADVOKASI LEGISLASI DI PARLEMEN

Advokasi dalam konteks kerja kelembagaan IPC adalah upaya mempengaruhi pemangku kepentingan dalam merumuskan undang-undang dan peraturan terkait lainnya sesuai misi lembaga. Berdasarkan misinya, maka fokus advokasi IPC diarahkan pada sejumlah undang-undang yang relevan dengan pencapaian DPR yang efektif, representatif dan akuntabel, yaitu:

1. UU Partai Politik

2. UU Penyelenggara Pemilu

3. UU Pemilu Legislatif

4. UU Pemilu Presiden

5. UU tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD)

Pembenahan parlemen melalui lima undang-undang ini, diharapkan menjawab rendahnya kepuasan publik terhadap kinerja DPR (Survey Pol-Tracking tahun 2012; hanya 12,5 persen responden yang puas dengan kinerja DPR). Ketidakpuasan tersebut tidak terlepas dari DPR yang belum efektif dalam bekerja, representatif dalam kebijakan dan kinerja yang akuntabel.

Efektif dimaknai sebagai antara keseimbangan antara sumberdaya dan waktu yang dikeluarkan dengan produk yang dihasilkan. Representatif artinya kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh DPR mencerminkan kehendak konstituen. Sementara akuntabilitas kinerja artinya hasil kerja DPR dapat diukur, dinilai dan dirasakan hasilnya oleh konstituen.

Untuk meningkatkan efektifitas, IPC bergabung dengan berbagi koalisi diantaranya adalah Koalisi Pemilu untuk advokasi UU Pemilu, FOINI untuk advokasi keterbukaan parlemen, Koalisi Penegak Citra untuk pemantauan kinerja DPR dan Koalisi untuk Perubahan RUU MD3.

Selain itu, ada beberapa undang-undang lain yang ddiperlukan untuk mencapai efektivitas dan akuntabilitas badan publik, yang juga diadvokasi IPC, yaitu:

1. UU Aparatur Sipil Negara

2. UU Keterbukaan Informasi

3. UU Pelayanan Publik

4. UU Mineral dan Batubara

5. UU Minyak dan Gas Bumi